[Book Review] Shut Up and Let’s Go! #2

cr: goodreads

  • Judul buku        : Shut Up and Let’s Go! #2
  • Penulis                 : Kim Hyun Jeong
  • Penerjemah      : Dwita Rizki Nientyas
  • Penyunting        : Prisca Primasari
  • Penerbit              : Qanita PT Mizan Pustaka
  • Terbit                    : November 2013 (Cetakan I)
  • Tebal                     : 376 halaman
  • Spesifikasi         : Fiksi Korea (Terjemahan)

~***~

Band bisa hancur karena perempuan dan uang
-Shut Up and Let’s Go! #2

Dikatakan dengan baik oleh Rock Kim dan Killer −sebutan untuk guru anak-anak Eye Candy (Ji Hyeok, Hyeon Su, Do Il, Ha Jin dan Gyeong Jong) yang memang ‘killer‘− membuat Ji Hyeok dan Hyeon Su yang merasa tersindir  hanya bisa terdiam (hal. 131-132). Mereka tidak sadar, dua hal itu memang benar dapat menghancurkan band bahkan persahabatan mereka di kemudian hari.

Walau tidak memenangkan festival band rock nasional yang mereka impikan, Eye Candy mendapat kontrak rekaman perusahaan terkenal yang dipimpin kakak Seung Hoon −ketua dari Strawberry Fields− Yoo Hae Ri. Kehidupan artis terbayang di depan mata, Eye Candy harus bersiap untuk debut. Mulai dari pindah ke asrama, latihan vokal maupun alat musik, pemotretan dan wawancara, juga rekaman di studio bagus yang membuat mereka terkagum-kagum. Semuanya mereka lakukan dengan satu tujuan: memperkenalkan lagu Byeong Hee kepada orang banyak.

Tapi, datangnya kesenangan juga selalu diimbangi dengan munculnya cobaan. Masalah pertama yang mereka hadapi adalah ketika Hae Ri awalnya berniat untuk mengontrak Ji Hyeok dan Hyeon Su saja. Hal ini jelas ditolak Ji Hyeok mentah-mentah. Ji Hyeok  tegas bilang kalau mereka adalah tim dan jika mereka dipisahkan maka rasanya akan berbeda karena mereka hanya akan nge-band jika bersama. Ada kalimat yang kusuka dibagian ini, yaitu waktu Ji Hyeok bilang “Grup musik bukan dibentuk, melainkan terbentuk” (hal 38). Aduh, ini kalimat bisa banget bikin aku tambah terharu. Gara-gara sikap tegas Ji Hyeok ini, Hae Ri akhirnya mengontrak mereka semua.

Masalah berikutnya pun bermunculan. Dari mereka terseret ke kantor polisi karena menyelematkan Woo Gyeong −sahabat anak-anak Eye Candy−, debut stage yang kacau, Hae Ri yang memaksa meluncurkan single kedua, sampai pemilihan produser single yang tak lain tak bukan jatuh pada musuh abadi Eye Candy; Seung Hoon. Semua itu berhasil mereka lalui bersama, seperti kata Soo Ah: “Semuanya terasa lebih baik karena kita tidak sendirian, melainkan bersama! Kita jadi lebih kuat!” (hal. 184).

Sayangnya, masalah yang datang menghempas eksistensi dan persahabatan mereka ternyata tidak datang dari masalah bersama seperti yang disebutkan di atas, melainkan karena masalah pribadi. Hyeon Su kebingungan mencari biaya untuk operasi adiknya, Do Il dituduh sebagai anak mafia, hingga Ji Hyeok yang dipaksa putus hubungan dengan Soo Ah setelah media mengetahui hubungan mereka. Masalah terakhir tersebut membuat Ha Jin terlibat perkelahian dan Gyeong Jong dipaksa pulang kampung oleh ibunya. Masalah mencapai puncaknya ketika Hyeon Su keluar dari Eye Candy dan tak lama kemudian Eye Candy bubar.

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari novel ringan ini. Hal yang seharusnya dapat dipetik oleh para calon pemain band adalah masalah individu anggota Eye Candy yang akhirnya membawa mereka pada perpecahan. Seperti kata sinopsis yang terdapat di sampul belakang buku ini: “Saat sedang dirundung masalah, mereka malah memendamnya sendiri-sendiri. Ketidakjujuran menimbulkan kesalahpahaman, dan kesalahpahaman dapat berujung pada perpecahan”. Ada juga kalimat Ji Hyeok lain yang aku suka, yaitu: “…kita tidak boleh melakukannya seperti kemarin-kemarin. Kita harus melakukannya bukan hanya karena senang bermain (band) bersama, juga bukan karena ada yang menyuruh. Sekarang, kita juga tidak boleh menyalahkan siapa-siapa.” (hal.  354). Rock Kim juga menyumbang kalimat bagus lain: “Musik dan pacaran itu punya kesamaan. Sama-sama indah di awal, ketika kita masih tidak tahu apa-apa. Setelah menjadi kenyataan, pertanyaan-pertanyaan memusingkan mulai bermunculan … Kapan harus mengakhirinya, bagaimana cara mengetahuinya? Tidak ada yang tahu. Kau baru akan tahu setelah hal itu berakhir. Tapi ada satu hal yang pasti. Tidak ada orang yang memulai hubungan sekaligus memikirkan akhirnya.” (hal. 332).

Buku ini membuat kita menyadari makna kebersamaan dalam sebuah band dan kerja keras. “Kau bermusik karena teman-temanmu atau butuh teman-temanmu karena ingin bermusik?” (hal. 39). Konflik dan runtut cerita semakin jelas di buku kedua Shut Up and Let’s Go! Ada satu kalimat lagi yang membekas di hati, karena baru-baru ini aku dengar juga kalimat sejenis ini di tempat lain: “Jangan bersusah payah untuk mendapat pengakuan dari siapa pun. Kalau kau tetap melakukannya, kau akan merasa sangat lelah. Kalau lelah, kau takkan bertahan lama…” (hal. 302).

Ada banyak kekonyolan juga didalamnya. Ada satu kalimat yang entah kenapa bikin aku ketawa ga jelas, yaitu waktu Ha Jin bersikukuh mengatakan bahwa kesukaan yang sama anak Eye Candy pada paha ayam menandakan bahwa mereka memang jodoh, sementara Gyeong Jong menolaknya. Hal ini membuat Hyeon Su berkata, “Hei, kenapa sesulit itu, sih? Kita pokoknya berjodoh, deh. Jodoh memang begitu. Tidak ada alasannya.” (hal 298). Mungkin karena aku bayangin Myungsoo ngomong kayak begitu yang bikin aku ketawa. Aku ga ingat sih, dia ngomong kalimat itu atau ga di drama #okegapenting. Aku baca ini sambil bayangin pemain dramanya sih.

Aku cuma menemukan satu typo di buku ini. Di halaman 347 paragraf ke-7 yang seharusnya “Hyeon Su berjalan melewati Seung Hoon…” malah jadi “Hyeon Su berjalan melewati Hyeon Su…”. Selebihnya aku tidak menemukan typo.

Finally, inilah akhir dari review buku Shut Up and Let’s Go! Aku mungkin tertarik bikin review untuk dramanya, tapi bakal sama kayak bukunya, jadi jangan heran ya hehe. Sekian review kali ini. If you have anything to say, just write it on the comment box below! Thank you~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s